ESAI 

PERANG GOWA DALAM NOVEL MAKMUR MAKKA

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda, esais, cerpenis, penyair.

________________________________________________________________

 

 

 

Membaca judul dan isinya, Perang Gowa karya Makmur Makka dapat disebut sebagai “novel sejarah”. Novel sejarah adalah fiksi naratif yang berlatar waktu, peristiwa, dan tokoh-tokoh dari masa lalu. Fiksi tersebut tentu tidak sama persis dengan apa yang terjadi di masa lalu. Pengarang berpeluang menafsirkan peristiwa sejarah di masa lalu, mengidupkannya kembali, sehingga menarik untuk dibaca, dan dipahami nilai-nilainya oleh generasi masa kini dan generasi yang akan datang. Fiksi naratif ini memadukan fakta sejarah dengan tokoh dan alur buatan pengarang agar masa lalu itu hidup kembali.

Kalau kita baca seksama, novel ini mengangkat peristiwa sejarah Perang Gowa dalam bingkai romantisme cinta dua orang joki kuda balap, Patta Emba dan Bunga Rossi, sekaligus kepahlawanan raja Gowa, Sombaya, melawan kelicikan dan tipu muslihat para musuh kerajaan Gowa, seperti Mayjen G.C. van Dallen, JB van Heutsz, dan Gubernur Idenburg. Sombaya terlihat  kalah licik dan kalah oleh politik “adu domba”. Patriotisme yang diperlihatkan Sombaya, yang layak jadi teladan bagi anak bangsa, akhirnya harus takluk oleh kelicikan dan taktik adu domba penjajah tersebut.

 

Tema sejarah

Karena bertema sejarah, isi novel ini tidak bisa dilepaskan dari kebenaran sejarah. Ia terikat oleh prinsip-prinsip kebenaran sejarah. Novel semacam Perang Gowa kerap juga disebut novel historis dan terikat oleh beberapa fakta yang terkumpul melalui penelitian dari berbagai sumber sejarah. Karena itu, novel sejarah ini tidak bisa sembarangan ditulis, sebab unsur sejarah yang dipakai harus berdasarkan sejarah yang pernah terjadi.

Dalam buku Budaya dan Masyarakat, Kuntowijoyo menyebut, novel sejarah berisikan cerita tentang peristiwa sejarah serta memiliki kebenaran sejarah (historical truth). Meskipun masih termasuk karya yang dibumbui unsur sastra, tapi novel sejarah harus tetap menceritakan sejarah yang sebenarnya. Menurut Henry S. Lucas, seperti yang dikutip Kuntowijaya dalam buku tersebut, dalam melihat kebenaran sejarah dalam sebuah novel sejarah bisa dilihat dari segi keaslian sejarah (historical authenticity), kesetiaan sejarah (historical faithfulness), dan kesetiaan unsur lokal (authenticity of local colour).

Namun demikian, novel sejarah bukanlah fakta sejarah, dan tidak bisa diperlakukan sebagai fakta sejarah. Novel sejarah berbeda dengan karya ilmiah sejarah. Dalam membedakan novel sejarah dengan karya ilmiah sejarah, seperti teks cerita sejarah, terdapat pada subjektivitas dan objektivitas. Sebuah novel sejarah, menurut Kuntowijoyo, lebih menekankan pada subjektivitas dan melibatkan imajinasi penulisnya. Sementara teks cerita sejarah lebih menekankan pada objektivitasnya. Seberapa subjektif novel sejarah, pengarangnya yang paling tahu. Pembaca, yang tahu sejarah yang sebenarnya, kemungkinan bisa mengukur subjektivitas itu dengan membandingkan keduanya.

Banyak novel sejarah yang sudah ditulis dalam khasanah sastra Indonesia, misalnya Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Teor, Dyah Pitaloka karya Hermawan Aksan, Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi, Max Havelar karya Multatuli, Gadis Kretek karya Ratih Kumala, Laut Bercerita karya Laila S. Chudori, dan Halaman Terakhir  karya Yudhi Heriwibowo.

Yang menarik adalah peluang untuk menafsir ulang sejarah, dan mengangkat sejarah dengan sudut pandang yang berbeda. Kisah Maha Patih Gajah Mada, misalnya, di tangan Langit Kresna Hariadi tampil sebagai pahlawan yang menyatukan Nusantara. Tapi, di tangan Hermawan Aksan, dalam Dyah Pitaloka, Gajah Mada dikesankan sebagai pecundang yang menyebabkan gagalnya pernikahan Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka. Ini, kemungkinan karena ada keberpihakan yang berbeda antara Hermawan dan Kresna. Hermawan berpihak pada Pitaloka, yang sudah diantar sampai ke daerah Bubat, tapi tak jadi dinikahkan dengan Hayam Wuruk, gara-gara ulah Gajah Mada, dan Gajah Mada akhirnya menjadi buron. Sedang Kresna berpihak pada “sejarah resmi” yang memuliakan Gajah Mada. Para peneliti sejarah berpeluang untuk membuktikan kebenarannya.

Peristiwa-peristiwa penting bersejarah, memang sering menimbulkan berbedaan tafsir. Begitu waktunya bergeser muncul tulisan-tulisan yang berbeda tafsir, sesuai kepentingan masing-masing. Peristiwa kerusuhan massal Mei 1998, misalnya, terjadi perbedaan tafsir tentang adakah ruda paksa di dalam kerusuhan itu, berapa korbannya, dan siapa pelakunya. Begitu juga peristiwa 30 September 1965, siapa dalang yang sebenarnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa film G30S mengandung kebohongan. Begitulah tafsir sejarah, dalam tarik menarik kepentingan, yang biasanya sangat politis. Kepentingan politik dan kekuasaan biasanya yang mempengaruhi sejarah menyimpang dari yang sebenarnya terjadi.

 

Jalan tengah

Dalam menulis novel Perang Gowa  ini Makmur Makka menyadari adanya kemungkinan beda tafsir itu. Tafsir pertama adalah teks kolonial yang rinci namun berat sebelah, dan tradisi lisan rakyat yang hidup tapi sering tanpa bukti. Dan, disinilah tantangan bagi penulisnya, Makmur Makka mengambil jalan bijak yakni jalan tengah: menafsir, bukan menyalin. Arsip kolonial  dijadikan kerangka waktu dan peristiwa, sementara tradisi lisan dan ingatan rakyat menjadi jiwa cerita.

Novel ini memakai struktur alur atau plot yang progresif. Plot yang relatif mudah untuk mengisahkan sejarah. Peristiwa demi peristiwa dirangkai, dari pengenalan atau orientasi, sampai terjadi konflik, klimaks, dan resolusi atau ending. “Penjaga” alur itu adalah dua joki kuda balap, Patta Emba, dan Bunga Rossi. Profesi sebagai joki membuat mereka sering bertemu, dan akhirnya saling jetuh cinta. Namun, pada ending cerita terpaksa berpisah, karena Bunga Rossi, bersama keluarganya, pindah ke Batavia.

Pada bentangan alur itu tergambar liku-liku cinta dan konflik kepentingan menuju Perang Gowa. Dimulai dengan lomba pacuan kuda di lapangan Somba Opu yang menampilkan Patta Emba dan Bunga Rossi dengan kuda andalan masing-masing. Patta Emba dengan kuda Bura’ne, kuda istana milik raja Gowa, Sombaya, dan Bunga Rossi, dengan kuda Lembayung, milik ayahnya, Encik Maulana, Syahbandar Makassar. Di sinilah gejolak perasaan cinta mereka tergambar. Patta Emba, yang mulai meragukan perasaannya sendiri, meragukan kesetiaannya pada Sombaya, merasa dirinya terbelah. Apakah seorang pengawal raja patut mencintai seseorang yang berada di pihak lawan? Ia merasa ada yang runtuh dalam dirinya.

Tetapi, sebelum kegelisahan itu terjawab, alur cerita terpotong oleh bagian II yang menceritakan Benteng Rotterdam. Di sini sama sekali tidak disinggung kisah Patta Emba dan Bunga Rossi. Begitu juga ketika masuk sub judul Siapa J.B. van Heutsz? Untuk mengatasi keterputusan itu, sebenarnya bisa disiasati dengan membuat “alur ganda” yang saling berkelindan ataupun sama-sama bergerak maju. Alur kisah Patta Emba dan Bunga Rossi dan alur kisah Benteng Rotterdam dan J.B. van Heutsz terus ada dalam novel. Justru di sini kreativitas pengarang ditantang untuk membuat alur dua kisah tersebut secara wajar. Mungkin kita bisa belajar pada film Marco Polo, bagaimana membuat alur kisah Marco Polo terasa tidak terpotong oleh masuknya kisah ambisi kekuasaan Kubilai Khan yang ingin menguasai Cina.

Secara teoritis, struktur atau plot novel sejarah relatif tidak berbeda dengan novel genre lain. Struktur sebuah novel sejarah lazimnya dimulai dari orientasi yang berisi perkenalan tokoh, latar tempat/waktu, dan atau sudut pandang. Kemudian pengungkapan peristiwa menjadi jembatan antara peristiwa awal dan peristiwa sejarah yang menjadi pokok peristiwa dalam novel sejarah.

Dilanjutkan konflik, lalu puncak konflik atau klimaks. Semua permasalahan bisa terungkap dalam bagian ini, termasuk cara tokoh menghadapi masalah tersebut dan bagaimana tokoh tersebut bertahan. Kemudian bagian resolusi dan penyelesaian masalah oleh tokoh. Terakhir, adalah koda, yakni penutup atau kesimpulan, yang berisi amanat atau pesan yang ingin disampaikan pengarang terkait isi novel sejarah yang dibuatnya.

Pada novel Perang Gowa, perang dimulai dari Bagian IV, pada sub judul Genderang Perang Ditabiuh. Penempatan sub judul yang terlampau banyak dan pendek-pendek mengesankan kisah sejarah yang terlalu banyak dipenggal-penggal. Apalagi, secara gafis, sub judul pada pergantian bagian sama dengan sub judul sub judul lain. Kesannya, kurang nikmat untuk dibaca. Secara grafis tekesan pada halaman isi nampak kurang tertata. Berat untuk dinikmati, terutama oleh pembaca muda.

Bagaimanapun, upaya untuk mengangkat Perang Gowa ke dalam novel adalah upaya positif utuk literasi sejarah masyarakat. Untuk menanamkan nilai-nilai kepahlawanan dan kesetiaan. Selama ini, kisah-kisah sejarah sering ditulis menyimpang dari kisah sejarah yang sebenarnya, terpengaruh oleh kepentingan politik dan kekuasaan. Novel sejarah berpeluang untuk menulis sejarah mendekati kebenaran, tanpa gugatan dari siapapun, karena pengarangnya bisa berlindung pada prinsip-prinsip fiksi (sastra). Dalam gaya fiksi realistik, pembaca, masyarakat, akan menikmatinya sambil merenungkan peristiwa yang sebenarnya, versi pengarang. Dengan  novel sejarah, setidaknya, masyarakat diajak untuk “melawan lupa”. *

 

_________________

Tulisan ini merupakan prasaran untuk talk show “Mengkaji Novel Sejarah Perang Gowa dan Meneladani Perjuangan Pahlawan Bangsa”  di Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa, Philanthropy Building, Jakarta Selatan, 3 September 2026. Tampil sebagai nara sumber Dr. Anhar Gonggong, Dr. Andi Makmur Makka, dan Ahmadun Yosi Herfanda, dengan moderator Juperta Panji Utama.

__________________

Related posts

Leave a Comment

20 − 9 =